ALAM TROPIKA

Indonesian Dreamed Garden

Industri Manufaktur VS Industri Pangan, Petani dapat apa?

Industri Manufaktur VS Industri Pangan, Petani dapat apa?

Halo sahabat alam tropika, di artikel kali ini kita akan membahas seberapa tinggi atensi pemerintah terhadap industri manufaktur dan industry pangan di Indonesia, dan sejauh mana dampaknya ke petani desa, simak terus yaa

Industri manufaktur menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia, peningkatannya terjadi secara cepat. Bahkan sudah menjadi trend perdagangan Indonesia untuk semua didaerah, sehingga menjadi andalan dalam memacu pemerataan terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat yang inklusif. Saat ini pemerintah fokus mengembangkan industri manufaktur yang menitikberatkan pada sektor pengolahan sumber daya alam, berorientasi ekspor, dan padat karya. Peningkatan Produk domestic bruto industri manufaktur tercatat 19,86 persen sepanjang tahun 2018. Peningkatan industry manufaktur ini begitu tinggi ternyata tidak berimbang dengan peningkatan industry pangan.

Beberapa waktu yang lalu pemerintah melakukan impor beras padahal ketersediaan surplus, hal tersebut dilakukan dengan alasan untuk ketersediaan apabila terjadi bencana alam dan gagal panen. Perum bulog mengumumkan bahwa persediaan pangan untuk tahun ini terdapat sekitar 2,5 juta ton beras dan diperkirakan akan bertambah sampai 3 juta ton.

Atensi pemerintah terhadap pengembangan industri pangan lebih menitik beratkan pada pemenuhan kebutuhan konsumsi beras masyarakat Indonesia, dan tidak memperhatikan pertumbuhan terhadap peningkatan jumlah produksi beras local. Memang tidak salah kalaupun harus impor beras, namun hal tersebut harus diiringi dengan pembenahan sistem pengelolaan lahan, terutama mengurangi proyek alih fungsi lahan dan focus membuat saistem pertanian yang lebih modern. Peningkatan konsumsi beras akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, jika hal itu tidak direspon dengan serius, bukan tidak mungkin Indonesia akan terus impor beras setiap tahun dengan alasan yang sama.

Keinginan untuk kedaulatan atau swasembada pangan sudah digaung gaungkan pemerintah pasca reformasi, dengan tujuan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat terutama petani. Namun hal itu belum terealisasi dengan maksimal, bahkan peningkatannya masih jauh dari ekspektasi. Permainan bahan pokok ternyata sangat banyak dilakukan oleh oknum kapitalis, yang mencoba memonopoli dan memainkan pasar internasional dan lokal tanpa memberdayakan petani petani desa. Hal itu dapat dilihat dari harga beras internasional sekitar Rp 6.200/kg dan local Rp 8.000/kg pertahun 2019. Oleh karena itu, pemerintah harus lebih serius untuk mengkaji sektor industri pangan terutama untuk teknologi pangan dan pemberdayaan para petani di desa desa.

Dari berbagai permasalah diatas yang paling dirugikan adalah petani, karena harus berjuang mengeluarkan tenaga, pikiran, dan waktu untuk bisa menghasilkan padi dengan kualitas unggul namun tidak mendapat kesejahteraan ekonomi yang sebanding dengan perjuanganya. Untuk itu peran pemerintah adalah melakukan pemberdayaan yang lebih intesif terhadap pengelolaan lahan modern sehingga kerjanya akan lebih efektif dan efisien, dan menjaga stabilitas harga beras dipasar agar tidak terjadi kesenjangan yang tinggi.

nah itu dia sobat, jangan bosan bosan untuk update ilmu yaa, terutama untuk pengelolaan sawah atau lahan yang lebih modern, dan jangan lupa berdayakan anak anak muda disekitar kita untuk ikut menjadi generasi petani yang lebih sejahter

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *